:::: MENU ::::

Blog ini berisi pandangan pribadi saja,

  • Kamis, Mei 28, 2026
Sambil menunggu waktu, seperti kebiasaan manusia jaman ini pada umumnya saya scroll timeline WA. Banyak info berseliweran yang masuk dalam mata, sebagian besar tak masuk dalam pikiran, namun ada beberapa info yang berulang yang membuat pikiran saya terpengaruh untuk mencari info lebih lanjut. Yap info hasil TKA (Test Kemampuan Akademik), sebagai orang tua yang anaknya sudah melakoni ujian kelulusan TKA saya tergerak mencari info apakah anak sulung sudah mendapat informasi nilai hasil TKA yang sudah dilakoni beberapa minggu sebelum tulisan ini diketik. Tanpa pikir panjang saya WA istri yang ikut dalam grup-grup info sekolah atau kegiatan si sulung. Setelah beberapa lama saya akhirnya menerima info hasil TKA anak sulung, dan saya agak terperanjat dengan nilai TKA si bongsor. Yap nilainya dibawah rata-rata "ekspektasi" saya, dan ada sebagian murid dalam sekolah yang sama mendapat nilai diatas rata-rata ekspektasi saya. Saya menyimpulkan bahwa sekolah sudah sesuai, karena terbukti ada murid yang dapat nilai bagus, diluar apakah anak tersebut mengikuti pelajaran tambahan atau les diluar sekolah. Saya juga kembali menyimpulkan saya yang salah, saya kurang mempersiapkan bekal guna ujian tersebut. Dalam frame kecil sebuah ujian TKA saya gagal mempersenjatai si sulung sehingga dia bisa memperoleh nilai sesuai ekspektasi saya. Seharusnya saya lebih peduli, lebih intens, lebih tahu kekurangan atau kelemahan si bungsu sehingga setidaknya mememberikan tambahan-tambahan amunisi sehingga siap, setidaknya mendapat nilai sesuai ekspektasi saya. 

Saya sebenarya agak dongkol, marah, kecewa campur aduk atas nilai tersebut. Saya mengapresiasi berapapun nilai si Sulung seandainya kami mempersiapkanya lebih matang. Saya lah yang bertanggung jawab penuh terhadap ekspektasi-ekspektasi nilai si Sulung. Kesimpulan-kesimpulan saya juga mengabaikan kondisi setiap anak berbeda-beda, ada yang jago matematika, ada yang jago bahasa, ada yang jago olah raga. Saya hanya bicara saya, menurut saya, kesimpulan saya, tapi abai sudut pandang lain.

Saya berfikir mendalam, mengingat-ingat apa yang saya sudah lakukan selama ini , dan seketika saya teringat kata-kata sikecil "Ayah COC, kakak COC, dan bunda Drakor". Yap setidaknya itulah memori yang diingat si Bungsu terhadap perilaku keluarganya. Saya kembali mengambil kesimpulan bahwa ketidaksesuaian ekspektasi saya terhadap hasil TKA si Sulung dengan perilaku keluarga kami. Sikecil menangkap ingatan bahwa Ayah dan kakaknya adalah pemain Gim dan Ibunya penggila drakor, setidaknya dia sudah memiliki figur seperti apa kelak hari-harinya akan berjalan. 

Saya melihat lagi diri saya, saya bercermin dan saya kembali menyimpulkan, banyak sekali kekurangan saya sebagai figur panutan. Saya sangat jauh sekali dari ekspektasi Ayah ideal.

Maafkan Ayah Nak.

Krian, 29 mei 2026.
  • Kamis, Oktober 13, 2022
Oleh K.H. Acmad Zamzuri, S.pd.
Pengasuh pondok pesantren Tanwirul Afkar, dusun Wadang Kel. Tempel Kec. Krian Kabupaten Sidoarjo.
Setelah rangkaian acara hadrah, sholawat, pembacaan ayat suci Al Qur'an, dan sambutan keluarga sohibul hajat, tibalah saat yang ditunggu yakni nasehat dari Kiai Achmad Zamzuri S.pd. Nasehat yang diberikan Dari K.H. Achmad Zamzuri Kepada ananda putra yang sedang di khitan yang adalah "Laatusyrik Billah", nasihat ini adalah nasihat luqman kepada anaknya, nasihat yang juga terkandung dalam surat luqman ayat ke 13. Beliau dawuh bahwa semua keburukan yang terjadi di dunia itu karena kesyirikan, menyekutukan sesuatu kepada selain Allah. Beliau mencontohkan kenapa ada orang korupsi, padahal sudah kaya, sudah cukup, ya karena para pelakunya itu syirik, "Wong korupsi tuhane duit opo Allah?", Beliau menegaskan dengan pertanyaan kepada hadirin, serentak hadirin menjawab duitt. Begitu juga orang mabuk, judi, dan segala keburukan di dunia ini ihwal mulanya adalah sikap syirik, karena mempertuhankan sesuatu selain Allah. "Wes pokoke lek syirik iku gawanane kemrungsung, gaiso tenang, bapak - kerso kulo paringi tips kersane urip tenang?" kiai Zamzuri melanjutkan nasehatnya dengan bertanya kepada hadirin, sontak semua menjawab "mauuuu", "Saestu?" Beliau menimpali, dan semua yang hadir menjawab dengan lebih lantang dan semangat "Enggeehh". "Saiki tips seng kedua", beliau melanjutkan petuahnya, tips yang kedua yang diberikan ini adalah "Ojok utang", tips yang agak sulit bagi saya karena saya bekerja di bidang perbankan, hehe. "Utang gak opo-opo pokok ojok akeh-akeh" beliau agak melunakan nasihatnya karena rata-rata yang hadir adalah warga perumahan, yang kemungkinan besar semua punya hutang KPR. Bagi saya inilah dakwah, poit utama tetap tersampaikan tapi masih melihat audience, dari sini seharusnya hadirin sudah tau, yaitu poin utama nasehat kedua ini adalah menghindari hutang. "Wong kene iki kemenyek, omahe neng krian ae nek nguyuh digowo neng Pacet", sontak suara gemuruh hadirin tertawa mendengar ledekan Kiai Zamzuri, ya Pacet adalah wisata terdekat dari perumahan kami, wisata nuansa pegunungan dan pemandian air hangat, obyek wisata tersebut jika ditempuh dengan kendaraan roda dua membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dari perumahan kami. Beliau juga menambahkan bahwa kita tidak perlu iri, dengki terhadap tetangga sehingga kalap memaksakan mengikuti gaya hidup yang tidak perlu dengan berhutang, beliau menukil kembali nasihat yang pertama bahwa segala keburukan berawal dari sikap syirik. Beliau menambahkan nasihatnya "Urip iku nek jere wong jowo, sak madyo wae, ojok ngranggeh - ngranggeh", artinya kurang lebih hidup itu apa adanya saja, "Madyo" bisa diartikan cukup, tengah-tengah, tidak berlebihan juga tidak kekurangan. "ngranggeh" jika dibahasakan adalah memaksakan mengambil/memetik/menjangkau sesuatu yang diluar jangkauan kita. "Wes saiki tips seng nomer telu, ben ati tenang sering-sering moco Al Qur'an", beliau menambahkan tips yang ketiga yaitu membaca Al Qur'an. "Al Qur'an iku duduk omongane jin, duduk omongane malaikat, duduk omongane nabi, tapi dhawuhe Allah seng nyiptakne sakabehane neng dunyo" beliau menambahkan bahwa minimal kalau bisa setiap hari bisa menyempatkan membaca Al Qur'an, kalau bisa minimal seumur hidup bisa khatam Al Qur'an satu kali, "Ojok sampek ket bayi Islam, moco Al Qur'an gaisok, yo ga apal blas ayat Al Qur'an, padahal rambute wes puteh, mugo-mugo neng kene gaenek yo wong koyok ngene" . "Wes saiki tips seng nomer papat bestie", gerrr tawa hadirin kembali menggema mendengar Kiai Zamzuri dawuh dengan bahasa kekinian 'Bestie'. Tips yang ke empat dan yang terakhir menurut beliau adalah tawakal, nurut, pasrah sama ketentuan Allah.  Beliau menyematkan kisah jaman Kanjeng Nabi dulu ada orang yang ditunjuk kanjeng nabi masuk surga. Kanjeng nabi dawuh kepada Umar yang saat itu menjadi khulafaur rasyidin, bahwa ada sahabat nabi di pojok desa yang ditunjuk nabi akan masuk surga. Umar pun penasaran karena perkataan kanjeng nabi tersebut, beliau menyelidiki sahabat tersebut. diselidiki sahabat ini tidak punya amalan khusus, hanya shalat berjamaah seperti sahabat lainya, malam juga jarang tahajut, puasa sunah juga tidak terlihat. Karena berhari-hari tidak mendapat petunjuk Umar pun tak sabar langsung menanyakan kepada sahabat tersebut. Karena ditanya Umar, sahabat tersebut agak bingung karena memang selama dia tidak punya amalan khusus seperti yang dimaksud umar. Sahabat inipun melanjutkan perkataanya bahwa , selama ini dia hidup ya seadanya saja, ada rejeki 25 ya dimakan 25, ada rejeki 50 ya dimakan 50, ya wes sak paringe gusti Allah. Umar pun menangis mendengar perkataan sahabat tersebut, karena selama ini Umar tidak bisa setawakal itu selama ini. Kiai syamsuri melanjutkan dawuhnya bahwa agar tenang menjalani kehidupan kita harus tawakal, menyerahkan sesuatu kepada Allah. Beliau memungkasi tausiahnya dengan berdoa dan diamini oleh seluruh hadirin.

Krian, 13 Oktober 2022

: : :

  • Selasa, Maret 31, 2020
Sepintas saya melewati jalan Rajawali siang tadi, saya melihat seseorang sedang menyebarkan air dalam kemasan aqua tanggung di sekitar tempat usahanya yang berada di pinggir jalan. Sekilas saya melihat air tersebut berwarna putih susu, saya sih menebak air tersebut adalah "Banyu Leri". Banyu leri adalah air sisa dari proses pembersihan beras sebelum di tanak sebagai nasi, bagi sebagian orang menyebar air leri di sekitar usaha dipercaya bisa mendatangkan penglarisan untuk usahanya. Saya ndak tahu kepercayaan tersebut diperoleh darimana, saya sendiri juga hanya mendengar dari orang - orang, ihwal khasiat banyu leri tersebut. Saat menyebar air tersebut saya juga tidak melihat posisi bibirnya apakah merapalkan sesuatu apa tidak. Merapalkanya pun saya juga tidak tahu persis apa yang dirapal, entah doa, mantra, jopa japu atau malah lagu dangdut. Yang sepintas saya lihat, mimik si penyebar banyu leri tadi terlihat lesu, mungkin ini karena efek wabah COVID - 19, yang sedang melanda kota Surabaya, sehingga jalanan terasa lengang, seperti saat lebaran tiba, sehingga si empu usaha merasa berkurang drastis penghasilanya. Ditengah kondisi sulit seperti saat ini, seseorang memang harus tetap survive dalam kondisi seperti ini,baik dengan melakukan manuver manuver modern nan keren, atau dengana mitos - mitos kuno yang banyak beredar. Mungkin bagi beberapa orang menyebar banyu leri bisa dianggap syirik, karena ndak diajarkan dalam agama manapun, dan ndak pernah ada riset yang mengangkat judul "Hubungan penyebaran banyu leri di tempat usaha dengan tingkat omset penjualan", namun saya sendiri ndak berani menghukumi ihtiar tersebut. Saya hanya sekedar lewat, di depan usahanya, saya tidak mendekat ke mulutnya untuk memastikan ada doa apa tidak saat menyebar air tersebut, saya juga ndak menyelami hatinya, untuk mengetahui niatan yang tersirat dihati penyebar. Yang pasti jika anda merasa sial karena mengalami ban bocor, dan tanpa sengaja menambalnya di orang tersebut, bisa jadi tuhan mengabulkan ihtiar si penyebar banyu leri, dan anda adalah wasilah rezeky orang tersebut. Daripada nyebar paku ya mendingan nyebar banyu leri. wkwkwk.